About me

Foto Saya
Firda Mustikawati
Mahasiswa Pendidikan bahasa dan sastra indonesia di salah satu Perguruan Tinggi Negeri di Yogyakarta
Lihat profil lengkapku
Feeds RSS
Feeds RSS

Rabu, 16 Juni 2010

sastra perbandingan

PERBANDINGAN LATAR FISIOLOGIS
DALAM NOVEL DI BAWAH LINDUNGAN KA’BAH KARYA HAMKA
DENGAN NOVEL THE MAGDALEN KARYA MARITA CONLON

LATAR BELAKANG

Sastra bandingan menurut Stallnecht dan Frenz (dikutip Trisman dkk: 70) merupakan studi perbandingan dua karya sastra atau lebih yang berasal dari negara yang berlainan, ataupan juga studi perbandingan antara sastra dan bidang-bidang lainnya seperti seni (seni lukis, seni pahat, seni arsitektur dan musik), filsafat, sejarah, ilmu-ilmu sosial (politik, ekonomi, sosiologi), agama dan lain-lain. Jadi, dapat diartikan bahwa sastra perbandingan merupakan studi perbandingan dua karya sastra yang berasal dari dua negara yang berlainan (dua kebudayaan yang berbeda).
Dalam telaah bandingan novel Di bawah Lindungan Ka’bah (DBLK) karya Hamka, dan The Magdalen (TM) karya novelis London, Marita Conlon akan dibahas satu aspek dari kedua novel tersebut, yaitu latar tempat yang ada di dalamnya. Alasan penulis melakukan studi perbandingan kedua novel tersebut karena disamping tema ceritanya yang sama yaitu perasingan tokoh untuk mendapat ampunan dari Tuhan juga karena adanya perbedaan kepercayaan yang dimiliki oleh masing-masing masyarakat Indonesia dan London. Masyarakat Indonesia yang mayoritas beragama Islam sedangkan masyarakat London mayoritas beragama Kristen.
Latar tempat yang menunjukkan tempat penebusan atau pengampunan dosa pada masyarakat Kristen di London dikenal dengan sebutan Magdalen Loundry yang terdapat di Dublin, sedangkan tempat yang menunjukkan pengampunan dosa yang diyakini oleh masyarakat Islam di Indonesia adalah berdo’a didekat ka’bah di Mekkah (Arab saudi) dan biasanya disebut dengan naik haji. Hal tersebut diyakini sebagian masyarakat sebagai budaya sebagian orang islam meskipun sebenarnya Naik haji itu bukan menebus dosa melainkan Naik Haji itu ibadah yang wajib bagi yang mampu.
Selain alasan yang bersifat umum, pada telaah bandingan kedua novel ini juga didasarkan atas alasan yang bersifat khusus yakni pemilihan kedua karya sastra tersebut berdasarkan keuniversalan sastra bahwa semua karya sastra memiliki ciri-ciri umum dan juga mempunyai ciri-ciri khusus yang hanya dimiliki oleh karya sastra tersebut.

DESKRIPSI KARYA SASTRA YANG DIBANDINGKAN

A. DESKRIPSI NOVEL “DI BAWAH LINDUNGAN KA’BAH”
Melalui novelnya yang berjudul Di bawah Lindungan Ka’bah (DBLK) Hamka mengungkap tentang persoalan kasih tak sampai antara kedua tokoh protagonis yaitu Hamid dan Zaenab. Hamka cukup menarik dalam membawa kisah ini. Dalam kegelisahan hatinya, Hamid menggantungkan diri pada Kuasa Illahi. Karena dia yakin hanya Allah lah tempat menambatkan diri, tempat berserah diri atas segala masalah. Pelarian itu sampai akhirnya membawa Hamid ke negeri Arab, tepatnya Mekkah. Dibawah lindungan Ka’bah Hamid bersimpuh diri atas segala permasalahan batinnya, berharap pertolongan ada kekuatan untuk tegar menghadapi kenyataan pahit ini. Sampai akhirnya dia tahu cintanya selama ini ternyata dirasakan juga oleh Zaenab. Tapi itu semua sudah terlambat, karena dua tahun berpisah adalah waktu yang lama bagi mereka, sampai akhirnya terombang-ambing dalam kerindunan tanpa akhir. Hingga ajal yang mengakhiri.
Pada saat novel ini dibuat adat Minangkabau pada saat itu masih sangat kental. Seorang anak perempuan apabila telah tiba saatnya harus masuk ke dalam pingitan keluarga, ia tidak boleh berhubungan bebas dengan dunia luar ( lelaki dewasa ), sampai tiba saat ada pria yang melamarnya atau dijodohkan dengan kerabatnya yang merupakan hasil kesepakatan keluarga dengan tujuan untuk menjaga status sosial dan memelihara harta warisan.

Setelah tamat dari MULO, menurut adat Zainab masuk dalam pingitan, ia tidk akan dapat keluar lagi kalau tidak ada keperluan yang sangat penting, itupun harus ditemani oleh ibu atau kepercayaannya, sampai datang masanya bersuami kelak (DBLK: 19).


Masyarakat Minangkabau juga dikenal sebagai suatu masyarakat yang sangat religius. Ada pepatah yang mengatakan, dimanapun kita berdiri diranah Minang, dapat dipastikan kita akan mendengar kumandang Adzan, panggilan untuk beribadah lima waktu. Kearah manapun kita menengok, hampir dipastikan kita akan melihat kubah sebuah Mesjid, minimal sebuah Surau dengan arsitektur Minang yang khas. Hal ini terlihat pada kutipan DBLK di atas tentang budaya adat Minangkabau yang masih sangat kental. Seorang anak perempuan yang setelah tamat dari MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) harus dipingit, karena dalam adat orang hartawan dan bangsawan Padang, kemajuan anak perempuan itu hanya terbatas hingga MULO.

B. DESKRIPSI NOVEL “THE MAGDALEN”
Dalam novel The Magdalen (TM) karya Marita Conlon mengungkapkan latar kisah nyata. Sejak pertengahan abad ke-19 hingga tahun 1996, di Irlandia banyak terdapat pusat rehabilitasi para wanita terbuang; pelacur, korban inses dan perkosaan, serta wanita yang hamil di luar nikah. Di pusat rehabilitasi yang dijuluki Magdalen Laundry ini, para wanita penghuninya tidak diperkenankan untuk keluar, bahkan sampai seumur hidup. Mereka dipaksa bekerja demi keuntungan para pengelola, "anak haram" mereka diambil paksa, dan mereka harus menerima perlakuan kasar atas nama penebusan dosa. Esther Doyle adalah salah seorang dari para wanita ini. Di Magdalen Laundry, dalam kondisi hamil ia diperlakukan dengan keji, diberi makan sekadarnya hanya untuk bisa bertahan hidup, dan dipaksa bekerja di binatu tanpa upah. Di Magdalen Laundry, ampunan Tuhan berarti penderitaan, siksa, dan kehilangan anak. Inilah episode kelam dari sejarah masyarakat religius.
“Rumah binatu Magdalena! Demi Tuhan, apa itu, Bibi PatSy?”. Itu sebuah rumah yang dikelola para biarawatiuntuk gadis-gadis seperti dirimu, gadis yang terlibat maslah. Sebagai imbalan perawatan, para perempuan ini bekerja di binatu. Pekerjaannya berat dan mereka bilang para biarawati sangat ketat mengawasi, tapi para gadis itu dirawat dengan baik. Tempat itu menggunakan nama Maria Magdalena, kau tahu, si pendosa dalam alkitab yang telah bertobat.”
Dari kutipan di atas terlihat bahwa kisah The Magdalen ini mengungkap tentang perjuangan melawan prasangka, intoleransi, dan berbagai perbuatan yang dilakukan atas nama kesalehan dan agama di dalam masyarakat Irlandia.

IDENTIFIKASI TITIK MIRIP
ALUR
Alur pada novel Di bawah Lindungan Ka’bah (DBLK) dan novel The Magdalen (TM) merupakan alur flash back. Sehingga kedua novel yang dibandingkan ini banyak memiliki kemiripan pada alur.
Alur merupakan bangun karangan prosa maupun drama yang penting. Peristiwa yang muncul pada plot adalah peristiwa yang disebabkan oleh lakuan tokoh-tokohnya. Plot merupakan pola keterhubungan antarperistiwa didasarkan pada efek kausalitas.
Novel Di bawah Lindungan Ka’bah dan The Magdalen ini alur dan peristiwa dalam novel disusun secara konvensional sehingga mencapai klimaks pada akhir cerita. Urutan peristiwa dibentuk secara berurutan dari peristiwa ke peristiwa lainnya.
Persamaan peristiwa pada novel Di bawah Lindungan Ka’bah dimulai dengan adat masyarakat Padang bahwasanya anak perempuan yang sudah lulus MULO tidak boleh melanjutkan sekolah lagi sehingga harus dipingit di dalam rumah sampai ada seorang pria yang melamarnya. Zainab adalah salah satu tokoh wanita yang diceritakan HAMKA pada novel Di bawah Lindungan Ka’bah yang dipingit atas tuntutan adat masyarakat Padang. Peristiwa seperti itu terdapat pada kutipan berikut:


“Zainab pun hingga itu pelajarnnya, karena dalam adat orang hartawan dan bangsawan Padang, kemajuan anak perempuan itu hanya terbatas hingga MULO, belum berani mereka keluar dari kebiasaan umum, melepaskan anak perempuannya belajar jauh-jauh. Setelah tamat MULO, menurut adat, Zaianab masuk pingitan, ia tidak akan dapat keluar lagi kalau tidak ada keperluan yang sangat penting, itupun harus ditemani oleh ibu atau kepercayaannya, sampai datang masanya bersuami kelak” (DBLK: 19).

Kutipan di atas merupakan peristiwa pada novel Di bawah Lindungan Ka’bah. Selanjutnya, seperti dalam novel Di bawah lindungan Ka’bah, novel The Magdalen juga memiliki peristiwa yang sama dalam masalah adat di dalam masyarakatnya yaitu di Irlandia. Adat pada masyarakat Irlandia yaitu apabila ada seorang wanita hamil di luar nikah, korban inses dan pemerkosaan, pelacur dll maka akan diasingkan di pusat rehabilitas yang dijuluki Magdalen Laoundry. para wanita penghuninya tidak diperkenankan untuk keluar, bahkan sampai seumur hidup. Mereka dipaksa bekerja demi keuntungan para pengelola, "anak haram" mereka diambil paksa, dan mereka harus menerima perlakuan kasar atas nama penebusan dosa.
Dalam novel The Magdalen ini terdapat tokoh wanita dalam peristiwa tersebut. Esther Doyle adalah salah seorang dari para wanita ini. Di Magdalen Laundry, dalam kondisi hamil ia diperlakukan dengan keji, diberi makan sekadarnya hanya untuk bisa bertahan hidup, dan dipaksa bekerja di binatu tanpa upah. Di Magdalen Laundry, ampunan Tuhan berarti penderitaan, siksa, dan kehilangan anak. Inilah episode kelam dari sejarah masyarakat religius.
“Jadi, Kau memang harus pergi Ester”
“Aku tahu, “Ester berbisik, takut memikirkan hal itu.
“Para biarawati budiman mempunyai rumah binatu Magdalena di Galway. Kau mau kesana?” (TM: 243).

“Itu sebuah rumah yang dikelola para biarawati untuk gadis-gadis seperti dirimu, gadis yang terlibat masalah” (TM: 244).

Pada kutipan diatas terlihat tokoh Ester yang akan diasingkan di pusat rehabilitas karena hamil di luar nikah. Kutipan diatas juga menunjukkan adat pada masyarakat Irlandia untuk wanita yang hamil di luar nikah untuk diasingkan di pusat rehabilitas.

Alur yang menunjukkan kemiripan pada kedua novel yaitu novel Di bawah Lindungan Ka’bah dan novel The Magdalen juga terlihat pada peristiwa meninggalnya ayah dari tokoh pada kedua novel tersebut. Tokoh Zainab dan Hamid pada novel DBLK ini, mengalami peristiwa yang menyedihkan yaitu kedua tokoh adalah seorang anak yatim karena ayahnya telah meninggal. Begitu juga pada novel TM, tokoh Ester pada novel tersebut tidak mempunyai ayanh lagi.

“Setelah beberapa lama kemudian, dengan tidak sangka-sangka satu musibah besar telah menimpa Kami berturut-turut. Pertama ialah kematian yang sekonyong-konyong dari Engku yang dermawan itu” (DBLK: 25).

“Masa saya masih berusia empat tahun, ayah saya telah wafat” (DBLK:11).

“Beberapa minggu setelah Dermot hilang di laut, seluruh keluarga masih sangat syok dan tak percaya” (TM: 79).
“Dermotku yang sangat malang. Begitu lama terendam air, “Majella terisak.
“Bayangkan, seorang laki-laki tua menemukannya terbawa arus di batu karang, Yesus, Maria dan Yosef! Kepiting dan ikan telah memakannya” (TM: 84).

B. Penokohan
Tokoh ialah individu yang mengalami peristiwa atau berlakuan dalam berbagai peristiwa dalam cerita. Tokoh-tokoh memiliki sifat tertentu dengan peran yang dilekatkan padanya oleh pengarang. Cara menampilkan tokoh-tokoh dalam karya sastra disebut penokohan.
Dalam kedua karya yang dibandingkan yaitu novel DBLK dengan TM, pengarang sama-sama menghadirkan tokoh satu dengan tokoh lain yang saling mencintai. akan tetapi ada pebedaan pada novel DBLK dengan TM dalam tokoh mencintai tokoh yang lain. Pada novel DBLK, hamid mencintai Zainab begitu juga sebaliknya Zainab mencintai Hamid. Akan tetapi kedua tokoh tidak pernah mngungkapkan isi hati masing-masing sehingga sampai akhir cerita barulah kedua tokoh mengetahui bahwa sebenarnya keduanya saling mencintai. Hamid pergi merantau untuk melupaka Zaenab, karena dalam pikirannya tidak mungkin dia bisa meminang Zaenab, karena status mereka berbeda. Zainab adalah anak dari seorang hartawan sedangkan Hamid tidak. Lain halnya dengan novel TM karya MaritaConlon, kedua tokoh dalam novel tersebut saling mencintai akan tetapi Conor salah satu tokoh pria pada novel tersebut tidak mau bertanggung jawab atas perbuatannya yang membuat Esther hamil sampai akhirnya Esther harus diasingkan di pusat rehabilitas yang diberi julukan Magdalen Loundry.

“Sebenarnya Ros....saya cinta kepada Hamid! Biar engkau tertawakan daku, Sahabat, biar mulutmu tersenyum simpul, saya akan tetap berkata, bahwa saya cinta kepada Hamid” (DBLK: 49).

“Esther justru semakin mencintainya karena hal itu dan ingin memeluk Conor erat-erat dan membuatnya melupakan kehidupan pahit tersebut, membuat Conor hanya mencintainya” (TM: 169).

“Cuma saja saya mesti berikhtiar supaya luka-luka yang hebat itu jangan mendalam kembali, saya mesti berusaha, supaya ia berangsur sembuh. Untuk itu saya mengambil keputusan, saya mesti meninggalkan kota Padang, terpaksa tak melihat wajah Zainab lagi, saya berjalan jauh” (DBLK: 40).

“ Sebelum kau bicaralebih jauh, Ester...kurasa kau gadis yang cantik, dan yang kita punya sangat istimewa, tapi Nualadan aku sudah berhubungan sekaran. Seharusnya aku mengatakan padamu, menghentikan hubungan kita lebih awal...(TM: 219).
“...Aku tidak akan menikahimu Esther, jika itu yang kau harapkan” (TM: 220).

Dari kutipan di atas terlihat tokoh-tokoh memiliki sifat tertentu dengan peran yang dilekatkan padanya oleh pengarang.

C. Tema
Tema cerita yang terdapat pada kedua novel ini sama yaitu perasingan tokoh untuk mendapat ampunan dari Tuhan juga karena adanya perbedaan kepercayaan yang dimiliki oleh masing-masing masyarakat Indonesia dan London. Masyarakat Indonesia yang mayoritas beragama Islam sedangkan masyarakat London mayoritas beragama Kristen.

PERBANDINGAN LATAR BERDASARKAN TITIK MIRIP
Setelah diidentifikasi aspek-aspek yang mendukung kesimpulan tema dari kedua cerpen tersebut, selanjutnya akan diperbandingkan dengan identifikasi untuk menunjukkan adanya kemiripan.
Dalam telaah bandingan novel Di bawah Lindungan Ka’bah (DBLK) karya Hamka, dan The Magdalen (TM) karya novelis London, Marita Conlon akan dibahas satu aspek dari kedua novel tersebut, yaitu latar tempat yang ada di dalamnya. Alasan penulis melakukan studi perbandingan kedua novel tersebut karena disamping tema ceritanya yang sama yaitu perasingan tokoh untuk mendapat ampunan dari Tuhan juga karena adanya perbedaan kepercayaan yang dimiliki oleh masing-masing masyarakat Indonesia dan London. Masyarakat Indonesia yang mayoritas beragama Islam sedangkan masyarakat London mayoritas beragama Kristen.
Latar tempat yang menunjukkan tempat penebusan atau pengampunan dosa pada masyarakat Kristen di London dikenal dengan sebutan Magdalen Loundry yang terdapat di Dublin, sedangkan tempat yang menunjukkan pengampunan dosa yang diyakini oleh masyarakat Islam di Indonesia adalah berdo’a didekat ka’bah di Mekkah (Arab saudi) dan biasanya disebut dengan naik haji. Hal tersebut diyakini sebagian masyarakat sebagai budaya sebagian orang islam meskipun sebenarnya Naik haji itu bukan menebus dosa melainkan Naik Haji itu ibadah yang wajib bagi yang mampu.
Selain alasan yang bersifat umum, pada telaah bandingan kedua novel ini juga didasarkan atas alasan yang bersifat khusus yakni pemilihan kedua karya sastra tersebut berdasarkan keuniversalan sastra bahwa semua karya sastra memiliki ciri-ciri umum dan juga mempunyai ciri-ciri khusus yang hanya dimiliki oleh karya sastra tersebut.
Dalam novel Di bawah Lindungan Ka’bah dan The Magdalen, pengarang memaparkan Perayaan Hari Besar Umat. Pada DBLK dipaparkan tentang perayaan Hari Besar Qurban bagi umat Islam. Prosesi yang dilakukan adalah dengan memotong hewan Qurban seperti kambing, sapi dan kerbau. Sedangkan pada novel TM dipaparkan tentang perayaan dan prosesi Perayaan Natal bagi umat Nasrani (kristen). Seperti yang terlihat dalam kutipan berikut:

“...Setelah berdiam diri di Mina, pada hari yang kesepuluh, kesebelas, kedua belas, dan ketiga belas dzulhijah, bolehlah kembali ke Mekkah mengerjakan tawaf besar dan sai, setelah itubercukur, sehabis bercukur baru disebut haji.” Pada perhentian besar di Mina itu, orang-orang yang kaya menyembelih hewan Qurban untuk fakir-miskin” (DBLK: 60).

“Para pengikut jejak Magdalena dan para biarawati, komunitas wanita yang terisolasi, merayakan natal bersama....Patung Bunda Maria yang terlihat srius dan agak muram, Josef yang matanya juling dijaga seekor keledai abu-abu dan seekor sapi jantan, aroma cemara di udara adalah satu-satunya indikasi nyata adanya perubahan dalam rutinitas biara” (TM: 395-396).



PENAFSIRAN PERBANDINGAN

Setiap tahap akhir kegiatan perbandingan adalah penafsiran hasil perbandingan. Penafsiran adalah penyikapan peneliti terhadap adanya kemiripan-kemiripan di antara kedua objek kajian. Penafsiran terhadap hasil bandingan itu harus berdasarkan data-data yang menunjukkan sebab-sebab mengapa terjadi kemiripan. Oleh karena itu, sebelum menafsirkan hasil perbandingan dalam pembahasan ini, perlu diuraikan data dan pertimbangan untuk menentukan kedudukan dari kedua karya tersebut.
Bahwa antara HAMKA sebagai pengarang novel Di bawah Lindungan Ka’bah dengan Marita Conlon sebagai pengarang The Magdalen tidak terjadi kontak secara langsung, sehingga sangat kecil kemungkinan bila kedua karya sastra tersebut saling mempengaruhi dalam penciptaan karyanya.
Dari kajian perbandingan novel Di bawah Lindungan Ka’bah karya HAMKA dan The Magdalen karya Marita Conlon, kemiripan-kemiripan yang terjadi adanya faktor afinitas. Afinitas adalah karya baru yang muncul belakangan diduga mirip dengan karya yang pertama muncul. Hal itu dengan penjelasan bahwa novel The Magdalen yang ditulis pada tahun 1952 di duga mirip dengan novel Di bawah Lindungan Ka’bah yang muncul sekitar tahun 1938 yang ditulis oleh HAMKA.

PENUTUP
Berdasarkan pembahasan di atas dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut:
a. Rangkaian peristiwa yang membangun alur dari masing-masing karya memiliki kemiripan.
b. Latar fisiologis yang membangun cerita pada kedua novel memiliki kemiripan, yakni yang menunjukkan tempat penebusan atau pengampunan dosa pada masyarakat Kristen di London dikenal dengan sebutan Magdalen Loundry yang terdapat di Dublin, sedangkan tempat yang menunjukkan pengampunan dosa yang diyakini oleh masyarakat Islam di Indonesia adalah berdo’a didekat ka’bah di Mekkah (Arab saudi) dan biasanya disebut dengan naik haji. Hal tersebut diyakini sebagian masyarakat sebagai budaya sebagian orang islam meskipun sebenarnya Naik haji itu bukan menebus dosa melainkan Naik Haji itu ibadah yang wajib bagi yang mampu.
c. Berdasarkan data yang ada dapat disimpulkan bahwa kemiripan yang terjadi disebabkan oleh faktor afinitas.

DAFTAR PUSTAKA
Conlon, Marita. 2007. The Magdalen. Jakarta: Dastan Books.
Malik, Abdul. 2009. Di bawah Lindungan Ka’bah. Jakarta: Bulan Bintang.
Trisman, dkk. 2002. Antologi Esai Sastra Bandingan dalam Sastra Indonesia Modern.
Jakarta:Pusat Bahasa.

0 komentar:

Posting Komentar